Untuk Muhammad Dimas Budi Agung bin Supriadi
Dalam dingin subuh yang belum sempurna,
suara panggilanMu menyentuh hatinya.
Ia berpaling, tidak dengan berat hati,
tapi dengan senyum kecil dan doa yang tak terucap.
Dimas, anak yang lembut dalam langkah,
tertawa ringan seperti angin bulan muda.
Menuliskan pesan dengan tangan cahaya,
mengingatkan kami bahwa hidup hanyalah jeda.
Kini ia berbaring di rumah terakhirnya,
bukan di antara tembok dunia,
tapi di sisi Tuhan,
di taman yang penuh ketenangan abadi.
Dan kami yang tertinggal,
tak ingin menangis terus-menerus,
cukup mengenangnya dalam diam,
dan mendoakannya dalam tiap malam.
Di langit Jambi yang tenang,
ada satu nama yang kini jadi doa,
Muhammad Dimas Budi Agung,
kawan yang kembali lebih dulu ke
pangkuan-Nya.
Kami masih ingat:
wajahmu yang damai,
sikapmu yang bersahaja,
diam yang tak pernah menyakitkan,
dan senyum yang menguatkan dalam senyap.
Dimas, namamu kini jadi pengingat,
bahwa hidup hanyalah persinggahan,
dan waktu bersama adalah anugerah
yang tak boleh disia-siakan.
Kau ajarkan kami,
bahwa persahabatan bukan sekadar tawa,
tapi juga keikhlasan mendoakan
saat satu jiwa dipanggil pulang.
Kami titip salam lewat sujud,
kami kirim rindu dalam ayat,
semoga kuburmu lapang,
dan langkahmu diterangi amal yang kau tanam
diam-diam.
Terima kasih, sahabat.
Meski jarakmu kini tak terjangkau peluk,
kami percaya
Allah lebih tahu kapan waktu terbaik untuk
pulang.
dari Papa
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Dalam dingin subuh yang belum sempurna,
suara panggilanMu menyentuh hatinya.
Ia berpaling, tidak dengan berat hati,
tapi dengan senyum kecil dan doa yang tak terucap.
Dimas, anak yang lembut dalam langkah,
tertawa ringan seperti angin bulan muda.
Menuliskan pesan dengan tangan cahaya,
mengingatkan kami bahwa hidup hanyalah jeda.
Kini ia berbaring di rumah terakhirnya,
bukan di antara tembok dunia,
tapi di sisi Tuhan,
di taman yang penuh ketenangan abadi.
Dan kami yang tertinggal,
tak ingin menangis terus-menerus,
cukup mengenangnya dalam diam,
dan mendoakannya dalam tiap malam.
Puisi untuk Dimas
" Cahaya yang Pulang Lebih Awal "
Kau tak pergi, Dimas…
kau hanya pulang lebih cepat,
meninggalkan jejak adab dalam pertemanan,
dan ketenangan dalam setiap kenangan.
" Cahaya yang Tak Pernah Padam”
Di malam sunyi saat angin mengetuk jendela,
Ada nama yang selalu terucap di dalam dada.
Dimas... ananda yang kini tiada,
Tapi senyummu, abadi dalam cerita.
Kita pernah tertawa di bawah langit yang sama,
Berbagi mimpi, harapan, dan luka.
Kini engkau pergi menghadap Sang Pemilik Jiwa,
Namun kasih sayang ini tak akan pernah sirna.
Doa kami menyertaimu dalam cahaya,
Melewati lorong-lorong waktu menuju surga.
Semoga Allah memelukmu dengan cinta,
Dan menempatkanmu di tempat yang paling mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar